Jebring: Kondisimu Kini


 

 

Pantai Jebring yang berada di dusun Banyuurip, desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto dua tahun lalu masih merupakan pantai perawan, dengan akses transportasi yang sulit. Sehingga sangat jarang orang dari luar daerah desa Ngadipuro yang berkunjung ke pantai ini. Jarangnya orang berkunjung ke pantai Jebring menjadikannya tetap asri, dengan pemandangan laut yang indah.

Pemandangan 2 tahun lalu, kini lenyap sudah. Deru mesin penambang pasir besi telah merusak hamparan pantai perawan ini. Alat – alat berat untuk melakukan penambangan didatangkan, demi keuntungan penambang (perusahaan penambang), tanpa pernah menghiraukan nasib lingkungan dan sumber agraria. Kerusakan lingkungan hidup mulai dirasakan oleh masyarakat didusun banyuruip mulai dari kerusakan jalan, hingga udara yang berdebu dan membuat sesak nafas.

Pencemaran udara disebabkan oleh lebih dari 100 truk mengangkut pasir besi dari pantai ini hlir mudik setiap harinya. Hasil tambang pasir besi, bukan milik masyarakat dusun Banyuurip yang tinggal didekat pantai Jebring, tetapi merupakan milik perusahaan yang tak dikenal darimana datangnya. Masyarakat dusun Jebring hanya menerima akibat kerusakan alam dan kembali melihat ketidakadilan social dalam bidang agraria di depan matanya sendiri.

Sumber agraria yang berupa pasir besi di pantai Jebring, telah dikuasai oleh Pemodal dari kota. Masyarakat local hanya menjadi buruh ditanahnya sendiri. Tanah yang menghasilkan Millyaran rupiah tersebut dikuasai oleh sedikit pemilik saham di kota yang tidak pernah mengerjakan penambangan pasir besi secara langsung. Sementara, masyarakat dusun banyuurip, yang sehari – hari hidup dengan alam sekitar pertambangan pasir besi tidak menguasai apapun dari pertambangan tersebut.

 

Kondisi Dusun Banyuurip

Kondisi alam banyuurip yang dulu berbatu, menjelang dibuka pertambangan di pantai Jebring berubah menjadi aspal oleh perusahaan penambang tersebut. Namun saat ini, aspal tersebut telah rusak parah dengan debu yang terus mengepul karena adanya 100 truk per hari yang hilir mudik. Ditambah asap kendaraan bermotor yang hilir mudik. Kondisi ini membangkitkan perlawanan perempuan Banyuurip yang melakukan Blokade jalan menuju jalan ke pertambangan.

Dalam negosiasi yang dilakukan oleh kalangan perempuan banyuurip tersebut, masyarakat menuntut adanya perbaikan jalan, sumber air bersih. Dimana tuntutan tersebut sampai saat ini belum dipenuhi oleh pihak perusahaan. Sehingga sumber tambang pasir besi di banyuurip tersebut, tidak pernah menghasilkan perubahan nasib bagi sebagian besar masyarakat di Banyuurip.

Apa yang salah dalam pola pembangunan di Banyuurip ini?

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s