TIGA TAHUN PERJALANAN PETANI MERDEKA KULONBAMBANG ( oleh: Andri Perangin-angin)

Sekapur Sirih
Perjalanan panjang Paguyuban Warga Tani Kulonbambang (Pawartaku) untuk mendapatkan hak atas tanah merupakan salah satu cerita sukses perjuangan petani di Indonesia. Pewartaku dibentuk pada1999 yang kemudian dalam perjalanan organisasi, Pewartaku bergabung dengan Paguyuban Petani Aryo Blitar (PPAB).

Perjuangan untuk mendapatkan tanah dari PT Sari Bumi Kawi berakhir pada 5 Oktober 2014 yang kemudian tanggal ini dijadikan sebagai hari kemerdekaan petani Pawartaku. Jadi selain merayakan hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, petani Kulonbambang juga merayakan hari kemerdekaan petani Kulonbambang pada 5 Oktober. Alasan yang sangat mendasar adalah tanggal tersebut penyerahan sertifikat hak petani atas tanah dari Perkebunan Sari Bumi Kawi.

“Petani merdeka” satu istilah yang mereka gunakan untuk menunjukkan kedaulatan petani atas tanahnya sehingga penataan, pengelolaan dan pemanfaatan tanah dilakukan sendiri. Menjadikan tanah sebagai simbol kemerdekaan petani, tidak terlepas dari pengalaman pahit yang mereka lalui ketika menjadi buruh perkebunan di PT Sari Bumi Kawi. “Wong persil”, satu istilah yang diberikan kepada mereka untuk menunjukkan levelnya sebagai petani buruh kebun yang bodoh, miskin dan tidak mempunyai martabat sebagai manusia biasa atau bisa dikatakan mereka adalah kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan paling rendah di sekitar Kulonbambang.

Istilah “Wong Persil” muncul sejak kolonial Belanda membuka perkebunan Kolonbambang kemudian berlanjut pada saat Indonesia merdeka karena lahan seluas 955,5 ha tidak diserahkan kepada petani namun diserahkan kepada PT Sari Bumi Kawi. Di serahkannya lahan tersebut keperusahaan perkebunan telah mejadikan status masyarakat tidak berubah, tetap menjadi “Wong Persil” sampai 1997. Menjelang jatuhnya kekuasaan Orde baru dan gonjang-ganjing politik ditingkat nasional maka lahirlah gerakan perlawanan dari Petani Buruh Perkebunan Kolonbambang pada 1997. Perjuangan ini semakin hebat ketika HGU dari perkebunan tersebut habis pada 1998.

Selama menjadi buruh perkebunan, baik di Dusun Bambang maupun tiga dusun lainnya hanya mendapatkan gaji Rp 15.000/hari dari merawat dan memanen Cengkeh. Namun setelah petani menguasai, mengelola dan memanfaatkan tanahnya secara mandiri akhirnya petani yang dulunya dikatakan “Wong Persil” bisa menata kehidupannya. Secara ekonomi taraf kehidupan mereka terdongkrak naik, hal ini bisa dilihat dari pembangunan rumah permanen diseluruh dusun, pembangunan jalan desa yang dilakukan secara swa daya, pembangunan listrik secara swa daya dll.

Tulisan ini merupakan bagian dari perjalanan dalam pembuatan film tentang peran perempuan dalam menata, mengelola dan memanfaatkan tanah pasca reditribusi dilakukan. Di depan akan dipaparkan berbagai kehidupan yang sedang dibangun oleh masyarakat di empat (4) dusun Kulonbambang pasca redistribusi dan berbagai aktivitas pertanian maupun organisasi Pewartaku. Keempat dusun itu adalah Bambang, Telegorejo (Binbin), Telegosari dan Anyer. Selama 13 tahun petani Pewartaku berjuang untuk menjadi petani yang merdeka, memiliki tanah dan secara bebas mengelola tanah tersebut. Keberhasilan mereka dalam merebut haknya atas tanah telah mengangkat harkat dan martabat mereka, dari kaum persil menjadi kaum yang terhormat dan disegani oleh warga kampung yang ada di sebelahnya.

Harapan Baru di Kolonbambang

Cerita di Bambang
Dalam perjalanan pembuatan film tentang peran perempuan dalam menata, mengelola dan memanfaatkan tanah pasca redistribusi di Kolonbambang, kami mengunjungi Dusun Bambang. Dusun Bambang terletak di bawah Lereng Gunung Kawi yang memiliki udara begitu sejuk, airnya cukup dingin dan belantara hutan masih sangat lebat di sekitar dusun. Untuk sampai ke Dusun Bambang dari Blitar kita membutuhkan waktu sekitar dua (2) jam dengan kondisi jalan yang kurang baik.

Dulunya Dusun Bambang merupakan bagian dari wilayah perkebunan Sari Bumi Kawi yang kemudian pada 2011 berubah menjadi sebuah dusun pasca redistribusi lahan dilakukan. Mata pencaharian penduduk di Dusun Bambang adalah bertani, pada umumnya petani yang ada di dusun tersebut berasal dari buruh perkebunan. Jenis tanaman utama yang ada di sana adalah cengkeh, corak menanam cengkeh ini peninggalan perkebunan yang diteruskan oleh petani pasca tanah diserahkan kepada mereka.

Pasca redistribusi lahan di Bambang ada satu hal yang sangat menarik perhatian kami, yakni munculnya nilai pluralisme di warga tani. Pada saat kami berkunjung ke Bambang, di sana sedang dibangun satu Gereja Khatolik dengan sistem gotong royong, artinya penduduk Bambang secara bergantian menjadi tukang bangunan dalam pembangunan gereja, baik yang beragama muslim, kristen maupun khatolik. Untuk Dusun Kolonbambang sendiri mempunyai jemaat dari Gereja tersebut hanya dua (2) KK namun ada beberapa KK lagi di luar dusun Bambang. Bagi penduduk Bambang untuk memupuk toleransi dalam umat beragama maka kita harus bisa menghargai hak dari kaum minoritas. Pembangunan gereja ini merupakan contoh toleransi yang bisa kita pelajari dari tingkat lokal di nasional.

Setelah menjadi petani merdeka, selain mempunyai kebebasan untuk mengelola lahan sendiri mereka juga mempunyai waktu kerja yang relatif bebas. Tentu hal ini sangat berbeda pada saat mereka masih menjadi buruh perkebunan yang semua waktunya telah ditetapkan oleh pihak perkebunan. Mulai dari mereka bangun pagi, makan pagi, siang, sampai pertemuan keluarga juga diatur oleh perkebunan. Saat ini mereka bebas pergi ke lahan, bebas berorganisasi, bebas memanen kapan saja bahkan mereka bebas untuk bepergian kemana saja.

Namun pada kenyataannya pada pagi hari, 06.00 WIB, aktivitas pertanian sudah ramai. Ada petani yang pergi ke lahan untuk mengutip cengkeh, ada yang sedang mengambil rumput untuk mekanan ternak, ada petani yang menjual hasil cengkehnya dll. Di luar pertanian, ada juga petani sedang melanjutkan pembangunan rumah mereka, ibu-ibu petani mulai membersihkan rumah, mengantar anak-anaknya kesekolah.

Pelan tapi pasti, kaum persil yang terhina oleh kehidupan sosial mulai hidup menjadi petani sesungguhnya. Sejak mereka mendapatkan tanah pada 2011s/d 2014 tidak ada bantuan pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka. Semua dilakukan secara gotong royong mulai dari mendapatkan tanah, mencari modal untuk bertani, mengelola lahan sampai pada penjualan hasil pertanian. Kinan misalnya, seorang anak buruh perkebunan yang lahir di Bambang, berjuang bersama petani lainnya untuk mendapatkan tanah mulai dari 1997. Setelah mendapatkan tanah Kinan menanam cengkeh untuk bertahan hidup namun syukurnya sekarang Kinan sudah bisa membangun rumah dari hasil penen cengkeh yang dikumpulkan selama tiga (3) tahun terakhir ini.

Pada saat kami berkunjung, petani yang ada di Bambang sedang membangun jalan. Konsep pembangunannya tetap sama yakni, swa daya dan yang berkerja juga bergantian diantara warga Bambang. Salah satu petani yang sedang bekerja mengatakan bahwa pemerintah hanya bisa berjanji namun tidak tidak pernah terlaksana. Jika terus menunggu dan bergantung kepada program pemerintah maka jalan tersebut tidak akan diperbaiki, akhirnya mereka berinisiatif untuk membangun jalan sendiri. Masalah jalan ternyata menentukan harga cengkeh yang ada di Bambang. Banyak tengkulak cengkeh yang menawar murah harga cengkeh karena alasan jalan yang rusak parah.

Sebagai catatan, masalah jalan merupakan permasalahan bersama semua dusun yang ada di Kulonbambang namun karena keterbatasan dari petani itu sendiri dan tidak ada bantuan dari pemerintah maka pembangunan jalan ini tergolong sangat lambat.

Selain menggarap lahan ada satu kegiatan yang sering dilakukan oleh petani Bambang, yaitu untuk laki-laki mereka sering menjadi kuli kayu jika belum musim panen cengkeh. Dari hasil jadi kuli kayu mereka mendapatkan upah Rp 150.000/harinya dan tentunya ini cukup lumayan untuk menambah pendapatan ekonomi mereka. Untuk ibu-ibunya mereka biasanya membantu warga lainnya untuk menyortir cengkeng dari batangnya. Biasanya kegiatan ini berlangsung setelah panen cengkeh, artinya ini adalah sisa hasil panen cengkeh yang dikumpulkan. Dari kegiatan ini mereka mendapatkan batang cengkeh yang telah mereka sortir dan untuk harga batang cengkehnya 1 kg sekitar Rp 11.000-12.000. Tentu kedua hal ini bukanlah pekerjaan utama mereka karena mereka juga punya lahan garapan dan kegiatan ini sudah berlangsung kurang dari tiga (3) tahun.

Cerita di Telegorejo
Dari Dusun Bambang kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Anyar, sekitar dua jam dari rumah Kinan, tempat kami menginap di Bambang.

Di perjalanan kami singgah sebentar di Dusun Telegorejo, satu jam dari Bambang. Di dusun tersebut ada pohon karet yang umurnya sudah ratusan tahun dan tepat disamping pohon besar itu ada lapangan bola voli. Di sekitar pohon karet dan lapangan bola voli inilah petani, baik yang tua dan muda berkumpul setelah seharian kerja di lahan garapan.

Petani yang ada di Telegosari merupakan perpindahan dari Dusun Lekong, sebuah dusun yang hilang karena penduduknya tidak mau lagi berada di bawah kontrol perkebunan (secara khusus akan dibahas tentang Dusun Lekong). Kebebasan bermain bola voli dan bertatap muka antar warga yang tinggal di Dusun Telegorejo bisa didapatkan karena mereka keluar dan tidak mau lagi menjadi buruh perkebunan. Olah raga bola voli ini telah mengikat solidaritas dan menjadi sarana komunikasi pemuda antar dusun yang ada di Kulonbambang.

Cerita di Anyar
Setibanya di Dusun Anyar kami disambut oleh Pak Ahmad, salah satu petani yang berjuang merebut haknya atas tanah dari Perkebunan. Pak Ahmad sendiri aktif di Credit Union, sebuah lembaga keuangan simpan pinjam petani di Kulonbambang. Dusun Anyar terletak tepat pintu masuk Perkebunan Bumi Sari Kawi, artinya untuk keluar dan masuk perkebunan harus memlalui Dusun Anyar.

Di dusun ini sedang dikembangkan satu sistem pertanian holticultura untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di depan rumah. Jenis tanaman yang ditanam pada pertanian holticultura ini adalah sayur-sayuran. Tujuannya untuk mengurangi pengeluaran petani dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti membeli cabe, tomat, terong dll. Dalam pengembangan sistem pertanian

holticultura anak-anak petani juga dilibatkan, biasanya mereka melakukan pekerjaan ini setelah pulang sekolah. Jika sistem pertanian holticultura ini berhasil maka akan dikembangkan ke dusun lain.
Selain itu mereka juga mulai mengembangkan pertanian organik, jadi mereka menggunakan pupuk dan obat pembasmi hama dari tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitar mereka. Ini juga menghemat ongkos produksi pertanian dan mendukung produksi pertanian sehat untuk dikonsumsi. Dalam pengembangan sistem pertanian holticultura menunjukkan semangat ibu-ibu untuk mengelola lahan tidak kalah dengan para kaum laki-laki. Ibu-ibu ini berkeyakinan kelak anak-anak dan cucu mereka nanti akan mempunyai kehidupan yang lebih baik jika menjadi seorang petani.

Dusun Lekong (yang Hilang)
Dari keterangan petani yang ada di Dusun Anyar kami mendengar satu dusun yang telah hilang keberadaannya pasca konflik agraria terjadi di Kulonbambang. Dusun tersebut adalah Lekong, dengan jumlah 20 KK yang tinggal di sana. Rasa penasaran kami membuat kam mendatangi lokasi tersebut dan di sana kami bertemu dengan pekerjanya yang hanya berjumlah tiga (3) orang. Dari keterangan pekerja tersebut kami mendapat informasi bahwa dulu 20 KK yang tinggal di Dusun Lekong merupakan buruh perkebunan. Kemudian pada saat konflik terjadi mereka ikut melawan dan memperjuangkan hak atas tanah, sebelum konflik selesai dan bahkan semakin memanas mereka pindah, yang sekarang ini bernama Dusun Telegorejo.

Perpindahan penduduk yang berjumlah 20 KK ini berdampak pada keberlangsungan perkebunan, bahkan pada saat kami datang perkebunan tersebut sudah tidak terawat lagi. Lahan seluas 110 ha tersebut masih ditumbuhi pohon cengkeh yang di bawahnya penuh dengan ilalang. Jika panen cengkeh tiba maka pihak perkebunan menyewa tenaga dari luar wilayah Kolonbambang. Tentu saja hal ini semakin memakan biaya lebih mahal untuk sekali panen, belum lagi saat ini serangan penyakit terhadap cengkeh di perkebunan tersebut semakin hebat.

Dalam perjalanan dari Dusun Anyar menuju Dusun Lekong kami melawati pabrik yang tidak lagi berfungsi sama sekali. Ada dua bangunan disitu, pertama adalah puing bangunan pada era kolonial Belanda dan satu lagi bekas bangunan pada era Orde Baru namun kedua bangunan ini sudah tidak berfungsi lagi. Pabrik pada era Belanda tidak berjalan lagi karena revolusi kemerdekaan, sedangkan pabrik pada era Orde Baru tidak berfungsi karena tidak ada lagi buruh yang Bekerja di sana. Ini dikarenakan petani telah berhasil mendapatkan haknya atas tanah. Di area pabrik hanya ada satu orang penjaga yang sejalugus bertanggung jawab untuk membersihkan komplek pabrik. Di bawah pabrik masih ada komplek perumahan buruh perkebunan. Buruh yang bekerja di sana hanya bertugas untuk memanen cengkeh yang kemudian hasil penen ini langsung di bawa ke Semarang untuk menjadi bahan rokok, minyak dll.

Tidak maksimalnya aktivitas perkebunan dan tidak berfungsinya pabrik yang ada di Kolonbambang memang menjadi satu cerita. Kondisi perkebunan menjadi seperti sekarang ini dikarenakan keberhasilan petani mendapatkan lahan garapan dan terus berjuang untuk mempertahankanya. Buruh perkebunan yang dulunya sering ditindas oleh pihak perkebunan dan setiap saat dilakukan secara semena-mena, melawan pihak perkebunan dan ternyata perlawanan ini memberikan satu harapan yang baru bagi kehidupan petani di Kolonbambang.

Dusun Telegosari
Dusun yang terakhir yang kami kunjungi adalah Dusun Telegosari, posisinya berada di belakang Dusun Anyar sehingga kami harus mengitari bukit untuk sampai ke dusun tersebut. Di dusun ini terdapat dua pembangkit listrik tenaga micro hydro, satu kerja sama dengan PLN Jawa Timur dan satu lagi kerjsa sama dengan PPLH Seloliman. PLN Jawa Timur hanya membantu pembuatan turbin micro hydro, sedangkan tiang dan kabel untuk mengaliri listrik ke rumah petani menjadi tanggung jawab mereka. Listrik di dusun ini sebenarnya berlebih namun tidak bisa menerangi Dusun Anyar dan Dusun Telegosari karena tiang dan kabelnya belum terpasang akibat jarak yang cukup jauh, petani terkendala di dana untuk membeli tiang, kabel dan menyewa teknisi.

Untuk saat ini permasalahan yang sedang dihadapi oleh petani Telegosari adalah jalan menuju dusun tersebut masih rusak parah. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa masalah jalan adalah permasalahan semua dusun yang ada di Kulonbambang karena mempengaruhi harga cengkeh. Tengkulak selalu menurunkan harga karena alasan jalan yang rusak parah. Saat ini mereka sedang merencakan untuk membangun jalan dengan swa daya, seperti yang dilakukan oleh Dusun Bambang.

Cerita Penutup
Sebelum kami menutup tulisan ini, kami berharap tulisan yang sangat sederhana ini bisa menjadi inspirasi bagi pejuang agraria lainnya bahwa absentnya negara dalam kehidupan petani bukan berarti petani tidak bisa melakukan apa-apa. Buktinya tanpa negara petani Kulonbambang bisa mendapatkan tanah, mengelola tanah dengan menanam cengkeh, memanen cengkeh bahkan mereka bisa membangun rumah permanen dari hasil cengkeh, membangun jalan, membangun listrik yang bekerjasama dengan PLN Jatim, mengembangkan pertanian organik dan mengembangkan peternakan walau dalam skala kecil. Akhirnya, Perjalanan ini kami tutup dengan dua cerita terakhir, pertama adalah peran perempuan mulai dari penguasaan lahan, pengelolaan lahan sampai mengurusi rumah tangga. Kedua tentang anak petani yang sudah mulai berani bercita-cita.

Perempuan Luar Biasa
Dalam dunia gerakan agraria kita tentu sering mendengar wacana bahwa perempuan harus dilibatkan dalam perjuangan merebut hak atas tanah, kemudian perempuan juga berhak mengelola tanah secara individu. Wacana ini bergulir karena keterlibatan perempuan dalam organisasi memang tergolong minim. Faktor penyebabnya adalah dalam kondisi masyarakat kita, masih terdapat sisa-sisa budaya patrineal sehingga tidak jarang kita temukan di desa-desa pandangan terhadap perempuan sebagai orang nomor dua.

Tempat untuk menghancurkan pandangan seperti ini salah satunya ada di dalam organisasi. Melalui Pewartaku, petani Kulonbambang melakukan Perubahan dengan menjadikan perempuan dan laki-laki itu setara. Keterlibatan perempuan dalam organisasi dan mendapatkan hak atas tanah adalah buktinya. Mereka telah sadar, baik perempuan maupun laki-laki mempunyai peran yang sangat penting dalam perjuangan agraria.
Memang pada dasarnya kaum perempuan selalu dianggap lebih lemah jika dibandingkan dengan kaum laki-laki dan laki-laki selalu dianggap lebih mampu dibandingkan perempuan. Tentu pandangan ini keliru karena di Indonesia perempuan sering mendapatkan peran ganda, yaitu mengurus domestik rumah tangga dan mengurus produksi ekonomi. Namun pandangan tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki tidak mudah untuk diajarkan ke desa-desa karena keterbatasan pengetahuan di luar lingkungan mereka. Kesetaraan yang ada di Kolonbambang lahir dari adanya satu masalah yang harus dipecahkan secara bersama-sama, baik laki-laki maupun perempuan.

Misalnya saja cerita seorang ibu yang ada di Dusun Anyar, sejak konflik agraria terjadi pada 1997, kaum ibu-ibu juga sudah terlibat untuk melawan perkebunan, mulai dari reklaiming tanah, demonstrasi ke Pemda Blitar, BPN dan DPRD. Setelah tanah didapat mereka juga ikut mengelola tanah, memanen cengkeh, menyortir cengkeh bersama laki-laki. Walau demikian mereka tidak pernah lupa tugas dan tanggung jawab sebagai seorang ibu, mereka harus memasak, mengantar anak kesekolah dan membersihkan rumah.

Jika dilihat dari kacamata gender maka pekerjaan tersebut memang tidak harus dilakukan oleh kaum perempuan saja karena memasak, mengantar anak kesekolah dan membersihkan rumah bisa saja dikerjakan oleh kaum laki-laki. Untuk saat ini peran ganda yang dilakoni oleh ibu-ibu petani Kolonbambang menunjukkan posisi yang belum ideal karena di luar mereka harus mengelola tanah dan berorganisasi, disisi lain mereka megerjakan semua urusan domestik. Tetapi secara perlahan hal ini akan mulai tergerus karena pendidikan-pendidikan organiasi terus berjalan. Hal ini akan mengurangi beban ganda yang ditanggung oleh ibu-ibu petani Kolonbambang karena laki-laki akan mengambil sedikit demi sedikit pekerjaan domestik.

Cita-cita Anak Petani
Dalam empat generasi sebelumnya kaum persil tidak pernah berani untuk mempunyai cita-cita. Rasa tidak percaya diri sebagai kelas buruh perkebunan membuat mereka terus-menerus jadi buruh perkebunan dari generasi ke generasi. Namun pada generasi keempat, yang salah satunya adalah kinan tokoh pejuang agraria Kulonbambang, berhasil melawan perkebunan. Hasilnya pada generasi kelima barulah anak-anak mereka bercita-cita seperti kebanyakan anak Indonesia lainnya.

Salah satu anak yang sempat kami tanyakan mengenai cita-citanya adalah Nadika Damar Panyuluh, anak dari Kinan. Dika panggilan akrabnya, jika sudah besar berkeinginan untuk menjadi seorang Polisi. Dika terkesima melihat pakaian seragam polisi yang sangat gagah. Kita berharap agar Dika menjadi polisi yang bisa melindungi petani, tidak menjadi polisi yang bersekongkol kepada pemilik modal untuk mengintimidasi petani, memenjarakan petani dan menganiaya petani seperti yang sedang terjadi di Indonesia.

Dalam usianya yang masih sangat belia, tentu saja belum memahami apa itu konflik agraria, hak petani atas tanah, dia juga tentunya tidak mengetahui kalau dulu polisi dan koramil sering mengintimidasi ayahnya sebagai pejuang agraria. Dika sendiri sangat bangga memiliki ayah seorang petani. Dika dan kawan-kawannya yang seumuran dengannya adalah generasi penerus yang akan membawa perubahan di Kolonbambang dan Indonesia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s