KEBANGSAAN INDONESIA DAN REFORMA AGRARIA

Saat ini istilah empat pilar kebangsaan Indonesia sudah sangat popular (Pancasila, UUD’45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI) di masyarakat. Tetapi apakah benar empat elemen tersebut merupakan pilar kebangsaan Indonesia sampai saat ini.

Pertama, Pancasila. Dalam sidang BPUPKI pada tanggal 30 Mei sampai dengan 1 Juni 1945, ditanyakan oleh ketua BPUPKI, Dr Radjiman Widiodiningrat sebagai ketua BPUPKI, dasar apakah yang akan digunakan untuk membangun Indonesia merdeka kedepan. Semua anggota BPUPKI memberikan jawabannya masing – masing. Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menawarkan lima dasar yang disebut sebagai Pancasila sebagai dasar dari Indonesia Merdeka. Diterangkan dalam pidato tersebut bahwa Pancasila merupakan dasar dari Indonesia merdeka atau dalam bahasa Jerman disebut Welstanchaung.

Pancasila sebagai dasar/pondasi kebangsaan Indonesia yang saat ini dirubah sebagai pilar sama dengan medongkel pondasi rumah besar bernama Indonesia untuk selanjutnya hasil bongkaran tersebut dijadikan pilar Negara. Akibat dari semua ini sangat jelas bahwa rumah kebangsaan Indonesia akan sangat rapuh, mudah roboh karena tidak mempunyai pondaasinya.

Kedua, NKRI, penulis lebih senang jika NKRI ini kita ibaratkan bangunan rumah yang dihuni oleh setiap warga negaranya. Melindungi segenap tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan. Rumah itu harus ada atapnya untuk melindungi dari panas dan hujan bagi penghuninya.

Menjadikan NKRI sebagai Pilar sama artinya dengan membongkar Negara Kesatuan Reublik Indonesia ini untuk kemudian dijadikan pilar dan kita semua tidak lagi mempunyai Negara. Ini merupakan sesat pikir yang terjadi dalam diri elit Indonesia sekarang ini.

Ketiga, Bhineka Tunggal Ika, merupakan bahan yang membentuk rumah kebangsaan ini, termasuk bahan dari pondasinya (Pancasila). Hal ini sama dengan bahan bangunan pembentuk rumah. Ada batu bata, pasir, semen, besi baja, cat dll. Elemen yang berbeda – beda itulah yang merupakan pembentuk rumah kebangsaan Indonesia. Ada Sunda, Jawa, Bugis, Islam, Kristen, Petani, Pedagang dan lain – lain.

Keempat, UUD’45 memuat dasar, pemandu kita (cara) dan tujuan buat apa rumah kebangsaan Indonesia ini didirikan. Sehingga semua peraturan yang tidak sesuai dengan UUD’45 harus dibatalkan demi hukum. Itulah fungsi UUD’45. UUD’45 bukanlah pilar tetapi seluruh proses/konsep yang telah, sedang dan akan digunakan oleh NKRI.

Menempatkan keempatnya sebagai pilar kebangsaan sama dengan menempatkan sesuatu tidak pada fungsinya masing – masing. Sehingga dapat menjadikan robohnya bangunan Negara ini. Lalu apa pilar kebangsaan Indonesia. Pilar kebangsaan Indonesia ini ialah jiwa – jiwa kepahlawan, kesanggupan mempertahankan Negara. Pilar Negara ini adalah darah, air mata dan keringat dari para pahlawan baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Pilar – pilar kebangsaan Kita adalah tiap – tiap pengorbanan yang tulus iklas dari siapapun untuk kepentingan kebangsaan dan kerakyatan Indonesia.

Lalu letak Reforma Agraria dalam bangunan bernama Indonesia ada dimana? Reforma Agraria sebagai pemataan ulang kepemilikan, penguasaa, pengelolaan dan pemanfaat sumber agrarian. Seperti halnya pembagian ruang dalam rumah kita. Didalam setiap ruang tentunya jelas, mana ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar timur, kamar mandi dan lain – lain. Kejelasan ruang didalam rumah inilah sebenarnya reforma agrarian.

Jika suatu Negara belum pernah melakukan Reforma Agraria, sama dengan rumah yang belum terbagi ruangannya. Menyebabkan banyaknya masalah, orang akan sembarangan buang hajat, akan memasak, tidur dan beraktifitas kerja satu ruangan. Tidak jelas mana lahan pertanian, industry, hutan dan lain – lain.

Kita bisa membayangkan bagaimana sebuah ruangan yang digunakan untuk tidur, juga digunakan untuk memasak dan buang hajat. Tentunya tidak akan nyaman bagi siapapun yang menghuni rumah tersebut. Kepala Keluarga harus segera bermusyawarah dengan anggota keluarga untuk menata/membagi rumah itu menjadi ruang – ruang yang mempunyai fungsi masing-masing. Itulah Reforma Agraria.

Sangat jelas bahwa setelah membangun pondasi bangsa (Pancasila) 1 Juni 1945, didirikannya rumah Indonesia (17 Agustus 1945) dengan blue print UUD’45 (18 Agustus 1945) yang semua bahan – bahannya beragam bentuk (kebhinekaan Tunggal Ika). Seharusnya tindakan pertama Negara ini adalah membagi ruangan dalam rumah Indonesia ini (Reforma Agraria).

Sehingga tidak mengherankan jika Ir. Soekarno mengatakan ” pembangunan tanpa landreform, sama dengan bangunan tanpa pondasi, gedung tanpa isi, omong kosong tak berisi, dan barang siapa yang menjalankan landreform berarti menjalankan bagian mutlak dari revolusi Indonesia”.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s