PANDAWA DADU: REFLEKSI PERJUANGAN REFORMA AGRARIA TAHUN 2013

Kisah dalam dunia pewayangan tidak hanya hiburan bagi masyarakat Jawa Khusunya dan Asia Tenggara pada umumnya. Wayang juga sebagai suri taulandan dalam kehidupan masyarakat. Merupakan petuah yang sangat dalam, bahkan dalam beberapa orasi pendiri bangsa juga disisipi kata – kata dari dunia pewayangan.

Salah satu lakon terkenal dari wayang ialah “Pandawa Dadu” (Pandawa Berjudi). Perebutan Negeri Astina antara Pandawa dengan Kurawa, berhasil diselesaikan dengan membagi Negara tersebut menjadi 2 yakni Astina dengan Raja Durudana yang merupakan Kakak tertua dari Kurawa dan Amarta yang dipimpin Raja Yudistira putra tertua dari Pandawa.

Dalam perkembangannya, pihak Kurawa ingin menguasai seluruh kawasan Astina termasuk Amarta. Maka berdasarkan usulan Mahapatih Astina Sengkuni, Pandawa diundang untuk main Dadu. Dalam masa itu, undangan main dadu dari Raja merupakan suatu bentuk kehormatan. Sehingga undangan tersebut disanggupi oleh pihak Pandawa.

Permainan Dadu tersebut, sebelumnya sudah di setting oleh Patih Sengkuni untuk kemenangan Kurawa. Diawal permainan, baik Pandawa maupun Kurawa saling mengalahkan. Hingga Sengkuni Mengusulkan menaruhkan Kerajaan masing – masing. Hal itu membuat Yudistira, terperajat. Durudana beralasan agar permainan lebih seru dan ramai. Singkat cerita Pandawa, kalah dalam permainan dadu, semua yang dimiliki oleh Pandawa termasuk martabat dan harga dirinya sendiri diberikan kepada Kurawa sebagai budak.

Sebuah permainan tipu – tipu dari Patih Sengkuni, sehingga Pandawa kehilangan semuanya dan harus dibuang di tengah hutan selama 12 tahun dan harus menyamar menjadi rakyat biasa selama 1 tahun. Sebuah cerita yang sering dialami oleh setiap gerakan menuju kedaulatan atas negeri dan tanahnya sendiri. Hal tersebut juga dialami oleh Pangeran Diponegoro dalam mengorbarkan perang Jawa 1825 – 1830.

————-

Di Gondangtapen, Wates, sebuah perkebunan yang sudah habis Hak Guna Usahanya. Dimana secara de fakto 100% sudah dikelola oleh masyarakat. Masyarakat sudah membentuk organisasi perjuangan dan bergabung dalam Paguyuban Petani Aryo Blitar, bersepakat untuk melakukan negosiasi dengan pihak bekas pemegang HGU yakni PT. Semen Dwima Agung (Anak perusahaan Semen Cibinong).

Dimana perusahaan tersebut, akan menggunakan tanah di Gondangtapen seluas + 800 Ha Tersebut sebagai ganti dari lahan Perhutani di Tuban yang digunakan untuk Pabrik Semen. Adapun pergantian berbanding 1:2, artinya lahan Perhutani yang digunakan oleh PT. HOLCIM di Tuban harus diganti 2 kali lipat di lain tempat.

Sebetulnya sangat ironis, mengingat tanah yang di Tuban tersebut merupakan tanah Negara yang dikelola oleh Perhutani. Sedangkan tanah yang di Gondangtapen merupakan tanah Negara yang tidak berstatus secara hukum. Saat keduanya ditukar, yang untung adalah PT. HOLCIM.

Nah, kedua belah pihak baik PT. HOLCIM maupun petani Gondangtapen bersepakat untuk mengadakan perundingan. Perundingan di fasilitasi oleh Tim Fasilitator Penyelesaian Sengketa Pertanahan Kabupaten Blitar (TFPSP). Kadang – kadang antara perwakilan masyarakat dengan pihak HOLCIM juga bertemu. Dalam setiap pertemuan tersebut belum pernah disepakati jumlah luasan yang diberikan ke masyarakat maupun yang akan dimiliki oleh P. HOLCIM.

Ditengah perundingan tersebut, secara sepihak, pihak Perusahaan menyerahkan surat penyerahan lahan Gondangtapen ke Dirjen Planologi, Kementrian Kehutanan untuk dijadikan lahan hutan. Sebuah penipuan yang dilakukan oleh perusahaan kepada petani penggarap lahan. Untuk hal ini diketahui oleh Petani sehingga saat ini petani melakukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara.

———–

Sementara di Ponggok, petani yang bersengketa dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), dimana dalam penyelesaian kasus tersebut, difasilitasi oleh KOMNAS HAM. Namun dalam perjalanan penyelesaian kasus tersebut ada 2 catatan yang patut digarisbawahi. Pertama, Kinerja KOMNAS HAM tidak lebih dari sekedar mediator professional semata, tidak menunjukkan keberpihakan kepada Petani ataupun upaya untuk petani agar mendapatkan atas hak tanahnya.

Dalam artian KOMNAS HAM hanya memfasilitasi pertemuan para pihak yang bersengketa, untuk selanjutnya kedua belah pihak berunding guna menyelesaikan kasusnya. Tidak pernah terlihat upaya KOMNAS HAM untuk memenuhi Hak – Hak petani. Atau dengan kata lain KOMNAS HAM hanya bekerja berdasarkan program semata tidak untuk menegakkan HAM itu sendiri.

Kedua, Bahwa pihak AURI melakukan ancaman tidak langsung dan upaya untuk menipu perwakilan dengan mengadakan pertemuan sendiri dengan perwakilan di kantor AURI di Malang, tanpa sepengetahuan KOMNAS HAM. Ironisnya pertemuan tersebut diakui sebagai bagian dari kesepakatan bersama dengan KOMNAS HAM. Kembali lagi petani di tipu oleh lawan – lawannya.

————

Namun kisah Pandawa Dadu yang terjadi di konflik tanah Gondangtapen belumlah selesai, karena saat ini Kelompok Tani Gondangtapen sedang melakukan perlawanan di Pengadilan Tata Usaha Negara. Kisah Pandawa Dadu memang harus terjadi didunia pewayangan. Pandawa memang harus dibuang, namun tidak begitu dengan petani Gondangtapen. Saat ini mereka masih melakukan perlawan itu.

Satu hal yang pasti dalam merebut tanah (mengacu pada kisah wayang) suka tidak suka, siap tidak siap, passtii akan terjadi lakon “Perang Bratayudha” perang antara Kurawa dan Pandawa untuk memperebutkan Tanah Astina yang merupakan hak Pandawa. Perang tersebut bukanlah perang antara 2 saudara tetapi pertama, merupakan perang antara kebaikan melawan kejahatan. Kedua, Saatnya yang meminjam harus mengembalikan, yang menanam harus memanen. Dan saat itu pasti akan tiba entah esok atau lusa. Tanah Rakyat itu, pasti kembali ke rakyat.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s