Asset Reform (Bagian 3) HUTAN RAKYAT

Reforma Agraria merupakan penataan ulang atas kepemilikan, pemanfaatan, pengelolaan dan penguasaan sumber – sumber agraria. Di Indonesia semangat penataan ulang ini dilandasi dengan tanah untuk penggarap. Artinya tanah yang ditata ulang tersebut, harus menjadi milik petani penggarap. Karena tanah merupakan sumber kemakmuran bersama dan bukan alat penghisapan atas manusia.

Karena hal tersebutlah, kemudian reforma agraria menjadi permasalahan tersendiri bagi lingkungan hidup. Isu – isu reforma agraria selalu dibenturkan dengan isu – isu lingkungan hidup. Hal ini karena adanya kawasan – kawasan hutan yang dibagi – bagikan oleh pemerintah kepada petani dan kemudian berubah menjadi lahan pertanian.

Namun tidak semua lahan yang telah diredistribusikan kepada petani, secara keseluruhan akan digunakan sebagai lahan pertanian pangan. Banyak juga lahan yang digunakan sebagai hutan rakyat, perkebunan, dan fasilitas umum.

Di Dusun Kulonbambang yang terdiri dari 4 sub dusun, Bambang, tlogosari, Kampung lima dan Tlogorejo dengan luas wilayah redistribusi 280 Ha. Saat ini yang masih dipertahankan menjadi areal perkebunan cengkeh + 100 Ha, pemukiman + 56 Ha, fasilitas umum + 20 Ha, lahan pertanian pangan + 70 Ha, hutan rakyat + 34 Ha.

Dimana hutan rakyat yang dibuat oleh masyarakat Kulonbambang baik di lahan Kolektif maupun dilahan individu, tadinya berupa semak belukar yang tidak pernah digarap/dikerjakan baik oleh perkebunan maupun masyarakat. Masyarakat tidak berani mengelola karena belum adanya kepastian hak atas tanah tersebut.

Justru dengan adanya kepastian hak dengan adanya sertifikat landrefrom tersebutlah, masyarakat kemudian dengan modal seadaanya mengelola lahan pertanian. Didalam pengelolaan lahan pertanian tersebut masyarakat Kulonbambang umumnya membagi lahannya menjadi 3. Pertama, perkarangan dan rumah, yang merupakan tempat rumah berdiri dan juga pekarangan yang ditempatinya tersebut. Biasanya di perkarang masyarakat menanam tanaman berupa pisang, ketela, empon – empon dll. Kedua, lahan yang ditanami dengan tanaman untuk kebutuhan sehari – hari dan ditanami untuk bahan makanan ternak mereka. Ketiga, tanah yang ditanami dengan tananam tahun berupa kayu tegakkan mulai dari kayu Lanang, kayu Sengon hingga Jabon.

Dengan begitu, masyarakat di Kulonbambang mempunyai penghasilan per hari, per minggu dan ternak sebagai penghasilan per bulan sekaligus tabungan. Selain itu tanaman pohon (tanaman tahun) akan menjadi tabungan jangka panjang dari masyarakat.

Selain menjadi tabungan jangka panjang, pohon juga akan menjaga sumber mata air di kawasan ini, karena kawasan Kulonbambang merupakan kawasan pertama pengguna air di lereng gunung Kawi lereng Kabupaten Blitar. Dengan tetap berdirinya tegakkan – tegakkan pohon tersebut, sumber mata air, dan kesuburan tanah akan tetap terjaga dengan baik.

Hutan rakyat tersebut juga menjadi bukti bagi kita semua bahwa Reforma Agraria tidak bertentangan dengan masalah lingkungan, selama Reforma Agraria dikelola dengan benar dalam hal tata guna lahan, tata produksi dan seterusnya. Untuk itulah, dibutuhkan sinergisitas antara isu reforma agrarian dengan isu – isu lingkungan hidup tersebut. Agar penjagaan lingkungan hidup juga menguntungkan masyarakat dalam hal ini petani penggarap dan reforma agrarian juga harus memperhatikan masalah lingkungan.

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s