POLITIK PETANI 2014

Tahun 2014, merupakan tahun politik bagi Indonesia. Dimana pemilu 2014 ini akan menentukan nasib bangsa ini kedepan, tidak hanya sekedar lima tahunan. Agenda pemilu tidak hanya dimaknai sebagai agenda per 5 tahun sekali. Tetapi lebih dari itu, sebagai agenda perubahan bagi Indonesia kedepan. Perubahan kebijakan – kebijakan kenegaraan dan perpolitikan Indonesia. Perubahan arah perjalanan bangsa Indonesia kedepan.

Untuk itu, Petani sebagai mata pencarian paling besar di Indonesia saat ini (sensus pertanian 2010) harus mempunyai sikap yang jelas terkait dengan pemilu di tahun 2014 tersebut. Selama ini petani hanya dihitung secara jumlah saja, bukan sebagai potensi pembangunan Indonesia kedepan, bahkan dunia pertanian semakin disingkirkan.

Petani baru diperhatikan oleh kalangan elit politik (pengambil kebijakan) saat – saat menjelang pemilu seperti ini. Jumlah suara yang besar, budaya paguyuban merupakan kelebihan petani dalam mengorganisir kekuatannya untuk kemudian mengusung calonnya sendiri.

Namun, pengalaman telah membuktikan kepada semua kelompok petani, bahwa mengusung calon yang bukan dari kalangannya sendiri. Justru akan menjadikan penderitaan kaum petani semakin panjang. Setelah pemilu, petani akan cenderung dibiarkan, diabaikan oleh calon legislative yang telah didukungnya. Isu – isu pertanian tidak pernah diperjuangkan oleh personal yang didukungnya. Petani aebagai mayoritas dari warga Negara hanya dianggap ada tatkala pemilu saja.

Sementara permasalahan petani tidak bisa dipungkiri sebagai permasalahan politik juga. Permasalahan pengambilan kebijakan, ditingkat local, regional maupun nasional. Untuk itulah, petani harus mampu mendudukkan kader – kadernya untuk menjadi perwakilan di dewan perwakilan. Karena hanya dengan mendudukkan wakil petani di gedung perwakilan tersebutlah, jaminan aspirasi petani akan tetap mendapatkan saluran yang lebih.

Keberadaan kader petani didalam perwakilan akan sangat membantu setiap langkah perjuangan kaum tani di wilayah tersebut. Karena sebagai kader tani, tentunya dalam perjalanan hidupnya selalu bersama – sama melakukan perjuangan, menderita bersama, senang bersama petani. Kebersamaan inilah yang membentuk cara pandang kader petani seperti petani pada umumnya.

Kesamaan cara pandang, akan menjadikan tiap – tiap posisi, sikap yang dihasilkan oleh kader petani yang duduk di lembaga perwakilan, akan seperti posisi dan sikap petani pada umumnya. Sehingga program dan kebijakan yang akan didukung kader petani tersebut, merupakan cerminan dari dukungan kaum petani pada umumnya.

Namun begitu, menjadi tanggungjawab setiap organisasi tani untuk berjuang sekuat tenaga untuk mendudukkan kadernya sebagai anggota dewan perwakilan. Untuk selanjutnya menjaga dan mengawasi kader tersebut, agar tetap pada garis perjuangan organisasi tani.

 

 

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s