CAPING GUNUNG: Refleksi Terhadap Aksi Represif Aparat Keamanan Dalam Menyikapi Aksi Hari Tani

Di Setiap hari tani, semua elemen organisasi petani dipastikan akan turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi, terutama organisasi tani yang memperjuangkan reforma agrarian sejati. Dan disetiap aksi tersebut, hampir bisa dipastikan organisasi tani akan berhadap – hadapan dengan aparat keamanan yang selalu represif. Seolah gerakan tani perjuangan untuk reforma agrarian merupakan gerakan kiri baru yang membahayakan Negara.

Hal itu, juga terjadi dalam peringatan hari tani di Blitar. Petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Aryo Blitar mengadakan aksi damai dengan menggelar orasi dan bermaksud untuk mengadakan dialog dengan perwakilannya di ruang DPRD. Namun tidak satupun anggota DPRD yang mau menemui petani dijalan. Mereka mengundang perwakilan untuk masuk kedalam ruangan. Sementara petani yang lain disuruh untuk menunggu dijalan depan kantor DPRD.

Masa petani yang kepanasan, meminta kepada aparat keamanan untuk memberikan tempat berteduh, yakni di pelataran kantor DPRD kabupaten Blitar, namun hal itu tidak diperbolehkan oleh pihak keamanan, sehingga terjadi bentrokan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh kawan – kawan petani. Bahkan kawan – kawan petani, diteriaki bajingan, anjing dll, oleh oknum aparat keamanan.

Semua hal diatas mengingatkan kami (petani) kepada sebuah lagu (tembang) jawa yang berjudul caping Gunung. Dalam lagu tersebut dikisahkan bahwa pada masa berjuang (gerilya) dulu, petani kedatangan tamu yang merupakan pejuang (gerilyawan), dengan tulus kaum petani menganggap mereka ini sebagai anak lanang (anak yang paling dicintai). Apapun akan diberikan kepada mereka, demi cita – citanya. (deh jaman berjuang, Jur Kelingan Anak Lanang = Saat jaman berjuang, teringat, anak laki – laki)

Gerilyawan ini, diopeni oleh petani sebagaimana anak kandungnya sendiri. Pada zaman itu, petani di gunung – gunung memberikan makanan berupa nasi jagung dan nasi tiwul (nasi singkong), karena memang adanya makanan di gunung seperti itu. Biar tidak kepanasan dan kehujanan, gerilyawan ini diberikan caping (topi) gunung. (Tak cadongi sego jagung, tak silihi caping gunung = kami beri makan nasi Jagung, kami pinjami topi gunung).

Anak lanang (Gerilyawan) ini sekarang ada dimana? Apakah mereka itu sekarang sudah lupa akan kebersamaannya dengan kaum tani pada saat berjuang? Bukan berarti kami (petani) tidak iklhas dalam memberikan nasi jagung, nasi tiwul dan caping gunung tersebut. (Biyen Tak Openi, Jur Saiki ono Ngendi = Dulu Saya Rawat, Sekarang ada dimana?)

Berdasarkan kabar, katanya anak lanang ini sekarang sudah menang, sudah mencapai apa yang diidam –idamkan yakni memenangkan peperangan dengan bangsa lain, mengusir bangsa lain. Kemenangan tersebut, tentu tidak akan pernah tercapai jika petani yang ada di gunung – gunung, di desa – desa, di perkebunan – perkebunan tidak memberikan rumahnyanya, cadangan makanannya untuk menyuplai kehidupan para Gerilyawan tersebut. (Jarene Wis Menang, Keturutan Sing di Gadang = Katanya sudah menang, tercapai cita – citanya)

Disaat gerilya tersebut, kaum gerilyawan ini, dulu pernah menjadikan sesuatu kepada kaum tani, untuk selalu bersama sebagaimana kebersamaan antara anak dan orang tuanya sendiri. Kebersamaan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, baik oleh ruang maupun waktu. Tetapi janji itu sekarang telah dilupakan oleh gerilyawan ini. (Biyen Nathe janji, Jur Saiki Apa Lali = Dulu Pernah janji, apa sekarang sudah lupa?)

Sekarang gunung, sudah berubah tidak sama dengan pada saat jaman perang dulu, sekarang desa – desa di gunung sudah ramai. Ramai dengan investasi orang diluar desa kami, sehingga menyebabkan ramai dengan  sengketa agrarian (gunung desa, dadi rejo = Gunung desa, jadi ramai).

Kedatangan Paguyuban Petani Aryo Blitar ke gedung DPRD Kabupaten Blitar dalam rangka peringatan Hari tani dan perjuangan untuk mendapatkan tanahnya kembali yang dirampas oleh perusahaan – perusahaan baik asing maupun dalam negeri, yang ditanggapi secara represif oleh aparat keamanan menujukkan bahwa hubungan anak dengan orang tua (Petani dengan Gerilyawan = TNI dan POLRI), telah dicederai oleh sang anak.

Masa petani yang hanya ingin berteduh di halaman kantor DPRD (Gedung yang dibangun dari pajak rakyat) dihadapi dengan pentungan, teriakan bajingan, anjing dan lain – lain. Merupakan watak dan karakter dari aparat keamanan dalam menghadapi gerakan rakyat/petani yang menganggap TNI dan POLRI sebagai ANAK LANANGnya.

Anak yang bersikap demikian kepada orang tuanya oleh masyarakat kita disebut, sebagai anak yang tidak tahu balas budi, anak durhaka, yang bila dikutuk bisa menjadi batu (Malin Kundang). Batu yang tidak bisa melihat, mendengar dan merasakan penderitaan petani (orang tuanya sendiri). Semoga kedepan POLRI akan berubah menjadi anak yang tahu sejarah hidupnya, yang ingat kepada janjinya terhadap orang tuanya di Gunung. ampibi 1SEMOGA… !!!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s