Asset Reform (Bagian 2) PERTANIAN ORGANIK

Reforma Agraria tidak sekedar merubah struktur atas kepemilikan, penguasaan, pengelolaan dan pemanfaatan atas segala sumber agraria ( tanah, air, udara, ruang angkasa ddan segala hal yang ada didalamnya). Reforma agraria dimaknai bahwa segala sumber agraria merupakan sumber kemakmuran bagi manusia. Sehingga menggunakan sumber agraria untuk menindas orang lain merupakan suatu yang tidak diperbolehkan.

 

Terkait dengan itu, setelah pembagian tanah melalui program redistribusi tanah di Kulonbambang, Doko, Kabupaten Blitar pada April 2012 yang lalu, tidak menjadi organisasi Paguyuban Warga Tani Kulonbambang (PAWARTAKU) bubar. Kini perjuangan PAWARTAKU terus berlanjut dan meningkat, dari organisasi tani yang memperjuangkan hak atas tanah menjadi organisasi tani yang mendorong dan memfasilitasi anggotanya untuk menjadikan tanah yang telah kembali kepangkuannya tersebut sebagai alat utama menuju kesejahteraan bersama.

 

Setelah lama bertahun – tahun menjadi buruh tani di perkebunan, sehingga anggota PAWARTAKU kurang menguasai masalah teknik pertanian. Menyadari anggota organisasi yang masih belajar dalam tehnik pertanian, pada tanggal 12 Mei 2013 ini diadakan pelatihan pertanian organik di lingkungan Tlogorejo, dusun Kulonbambang. Adapun pengisi materi dalam pelatihan tersebut berasal dari Yayasan Cindelaras Jogyakarata. Masyarakat kulonbambang antusias mengikuti pelatihan yang diadakan tersebut. Terbukti dengan banyaknya anggota masyarakat yang datang baik dari Tlogorejo, Bambang, Tlogosari maupun dari kampung tengah.

 

Dalam pelatihan ini, masyarakat diajak langsung praktek untuk membuat pupuk NPK organik, pupuk cair Organik, dan peptisida organik. Pelatihan yang langsung praktek lapangan ini menarik bagi kalangan petani karena mereka akan lebih paham dibandingkan dengan hanya sekolah diruangan.

 

Dengan pelatihan pertanian organik ini, diharapkan cita  cita sebagai petani yang berdaulat atas tanah dan dirinya sendiri, dapat dicapai. Karena selama ini, petani dapat sejahtera tetapi tidak berdaulat atas benih, pupuk dan semuanya. Sehingga peningkatan kesejahteraan petani, lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan kesejahteraan yang diperoleh pengusaha pertanian baik dalam usaha bibit, pupuk maupun hasil pertanian.

 

Kedaulatan petani ini merupakan titik awal untuk menuju kesejahteraan bersama bagi kaum tani. Tanpa adanya kedaulatan petani, kesejahteraan yang diperoleh petani hanya akan menjadikan petani berada di posisi dependent. Dalam posisi ini, petani akan selalu menjadi pengikut bagi pasar, pengusaha dan lain – lain.

 

Selain itu, pertanian organik akan membuat masyarakat mampu memanfaatkan segala hal yang ada dilingkungannya, yang kadang dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya.   

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s