HOLCIM: TIPU RAKYAT dan NEGARA

 

            Semua tentu sudah mendengar PT. Holcim (Persero) yang merupakan salah satu perusahaan semen terbesar di dunia dan berpusat di Meksiko. Kini perusahaan ini telah melakukan investasi di Indonesia baik langsung maupun dengan membeli saham dari perusahaan Semen lainnya (Semen Cibinong).

Namun dibalik itu semua, PT. Holcim melakukan tindakan yang mencederai hukum negara dan rakyat di Gondangtapen, Kecamatan Wates Kabupaten Blitar terkait dengan keberadaan pendirian Pabrik di Tuban, yang harus melakukan tukar guling dengan bekas perkebunan Gondangtapen.

Berikut ini sejarah perkebunan Gondangtapen.

SEJARAH

Bekas perkebunan Gondangtapen berada di desa Ringinrejo, terbagi dalam HGU No. 1/Ringinrejo seluas 567,38 Ha yang berakir 31 Desember 2012 dan HGU No. 2/Ringinrejo seluas 287,19 Ha berakhir 31 Desember 2009. Perkebunan ini dulunya merupakan perkebunan Karet yang kemudian berubah menjadi perkebunan Cengkeh.

             Semula merupakan bekas Hak Erfp. Verp. No. 176, 177, 178 a.n. N.V Cutuur Maatchappij Waringin seluas + 1.123,5550 Ha dan berakhir pada tanggal 29 April 1970. Didalam hak Erfp tersebut N.V Cutuur Maatchappij menanam Karet sebagai tanaman utama perkebunan Gondangtapen.

Pada masa Jepang, semua perkebunan Belanda ditinggalkan oleh pemiliknya, yang kemudian oleh masyarakat dikelola sebagai sumber makanan. Setelah itu, perkebunan ini dikelola oleh Perusahaan Perkebunan Negara. Pada tanggal 26 Mei 1964, sebagaimana program landreform pemerintah saat itu dikeluarkanlah surat Keputusan Menteri Pertanian dan Agraria No. SK 49/Ka/1964 yang berisi sebagian areal perkebunan Gondangtapen yakni seluas + 266 ha dinyatakan sebagai Objek Landreform.

1965, merupakan titik balik program Landreform. Setelah pecahnya G 30 S/GESTOK, maka tahun 1966 perkebunan Gondangtapen dikuasi oleh Korem 081 madiun, yang kemudian diserahkan kepada PT. Candi Loka dan terbit 2 HGU. Hal ini berdasarkan SK Menteri Dalam Negeri No. SK.48/HGU/DA/1976 tanggal 02-10-1976, dikeluarkan HGU No 1/Ringinrejo luas + 567,3800 Ha berakhir tanggal 31-12-2001 dan SK Menteri Dalam Negeri No: SK.41/HGU/DA/1984 tanggal 19-11-1984, dikeluarkan HGU No. 2/Ringinrejo luas + 287,1900 Ha berakhir tanggal 31-12-2009.

Pada tanggal 22-04-1986, ke-2 HGU oleh PT. Candi Loka dijual kepada PT. Gunung Bale Indah. Berdasarkan PPAT khusus tanggal 04-09-1996 No. 3/Jatim/1996 dan No. 4/Jatim/1996 dialihkan kepada PT gondang tapen Barumas.

Berdasarkan surat Menhut tanggal 04-06-1996 No. 767/Menhut/VII/1996 Perkebunan Gondang Tapen disetujui sebagai tanah pengganti hutan. Berdasarkan perjanjian jual-beli tanggal 19-06-1996 No. 107 dihadapan Singgih,SH Notaris di Jakarta HGU No. 1 dan 2 /Ringinrejo dibeli/dialihkan kepada PT. Semen Dwima Agung.

Berdasarkan Ijin Prinsip, Ijin Lokasi, Surat Persetujuan Penggunaan Tanah disetujui untuk penganti tanah kawasan hutan. Berdasarkan SK.MNA/Ka.BPN tanggal 28-11-1997 No. 6-VII-1997 HGU-No 1 dan 2/Ringinrejo seluas + 854,5700 Ha diijinkan untuk dilepaskan menjadi kawasan hutan.Berdasarkan Surat Pernyataan Pelepasan Hak tanggal 02-06-1998 No. 1/PLH/VI/1998 HGU No. 1 dan 2/Ringinrejo dilepaskan kepada negara untuk kepentingan Perum Perhutani.

Berdasarkan Surat Perjanjian Serah Terima tanah Pengganti tanggal 15-06-1998 No. 01/PSTT/HUKMAS/II/1998 TN bekas HGU No. 1 dan 2/Ringinrejo oleh PT Semen Dwima Agung diserahkan kepada Kepala Unit II Perum Perhutani Jawa Timur.

Berdasarkan Surat Kepala BPN tanggal 11 Maret 2003 No. 570.35-542 menegaskan bahwa tanah eks Perkebunan Gondang tapen telah menjadi kawasan hutan, penyelesaian sepenuhnya tergantung kepada pihak PT. Semen Dwima Agung dengan pihak Perum perhutani Unit II Jawa Timur.

 

Setalah dilakukan chek lapangan oleh Perum Perhutani II wilayah Jawa Timur, diketahui bahwa bekas perkebunan Gondangtapen dikelola oleh masyarakat, sehingga perhutani tiak mau menerima Alih Fungsi tersebut dan meminta kepada PT. Semen Dwima Agung untuk menyelesaikan persoalan sengketa laha sampai Clear dan Clean.

 Kondisi Objek Saat Ini

Sejak dikuasi oleh PT. Gondangtapen Barumas pada tahun 1996, eks perkebunan Gondangtapen tidak diusahakan secara instensi oleh PT. Gondangtapen Barumas. Sehingga tanah tersebut dikela oleh masyarakat sekitae untuk dijadikan sebagai sumber kehidupannya. Kemudian dibeberapa titik telah didirikan perumahan sehingga menjadi perkampungan.

Catatan Kritis

Beberapa catatan kritis dalam kasus ini antara lain:

Setiap peralihan Hak atas tanah dalam hal ini Hak Guna Usaha No 1/ringinrejo dan HGU No. 2/Ringinrejo hanya dilakukan didepan notaris, tidak dilakukan perubahan pemegang Hak. Sehingga nama pemegang HGU sampai saat ini masih PT. Candi Loka.

Eks Perkebunan Gondangtapen ditetapkan terlebih dahulu menjadi Hutan, yakni pada tanggal 04-06-1996 berdasarkan surat Menteri Kehutanan No. 767/Menhut/VII/1996. Baru kemudian perkebunan Gondangtapen dibeli oleh PT. Semen Dwima Agung (19-06-1996) dan dijadikan sebagai pengganti kawasan Hutan yang digunana oleh PT. Semen Dwima Agung di Tuban. Menunjukkan adanya upaya yang sistematis menjadikan tanah ini sebagai pengganti Hutan di Tuban.

 Sejak tahun 1996 ( 5 tahun sebelum HGU No. 1/Ringinrejo berakhir dan 13 tahun HGU No. 2/Ringinrejo berakhir) telah terjadi 3 kali jual beli dibawah tangan terkait HGU perkebunan ini. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk memutar HGU sehingga tanah akan menjadi sengketa berbagai pihak untuk kemudian dijadikan milik swasta secara penuh.

            PT. Semen Dwima Agung merupakan anak perusahaan dari PT. Semen Cibinong yang saat ini sahamnya dikuasai oleh PT. Semen Holcim.

 

NEGARA DITIPU

Tanah yang digunakan oleh PT. Holcim di Tuban merupakan tanah yangdikuasai negara secara tidak langsung melalui Perum. Perhutani. Sehingga saat menggunakan tanah Perum. Perhutani, maka PT. Holcim harus menggantikan tanah tersebut sebanyak tiga kali lipat.

Sedangkan tanah yang akan dijadikan sebagai ganti dari tanah di Tuban tersebut adalah tanah bekas perkebunan Gondangtapen yang Hak Guna Usahanya sudah berakhir, dan menjadi tanah negara bebas. Sehingga tukar guling yang akan dilakukan oleh PT. Holcim dan Perum. Perhutani cacat secara hukum.

Tanah Negara yang dikuasai oleh Perum Perhutani ditukar dengan tanah negara bebas. Sedangkan yang menikmati hasil pertukaran tersebut adalah PT. Holcim. Sebuah perusahaan asing, yang tidak pernah memberikan apapun demi kemajuan bangsa dan Negara.

Tukar Guling yang demikian tersebut seharusnya dapat dicegah oleh instansi pemerintah terkait, karena negara telah dirugikanoleh perusahaan asing dan tidak berbuat apapun. Kalau negara tidak melakukan pencegahan atas rencana tukar guling tersebut, maka kedaulatan negara telah dikalahkan PT. Holcim.

Mengingat bahwa rencana Tukar Guling PT. Holcim dengan Perum Perhutani tersebut yang mencederai rasa keadilan dan melanggar Hak masyarakat lokal di Gondangtapen, serta Merupakan bentuk penipuan sistematis kepada negara. Maka masyarakat Gondangtapen yang merupakan anggota Paguyuban Petani Aryo Blitar bersama dengan Sitas Desa menyatakan MENOLAK rencana Tukar Guling tersebut dan menuntut agar tanah bekas perkebunan Gondangtapen diredistribusikan kepada masyarakat desa Ringinrejo.

 Hidup Petani … !!! 

 

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keadilan Sumber Daya Alam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s